Friday, January 8, 2016

Yuk, cegah obesitas!


Halo semua! kali ini saya ingin membagikan tips kesehatan, nih. Topik yang saya angkat kali ini adalah tentang obesitas atau kegemukan.
Ya, kegemukan. Siapa sih, yang nggak mau mendapatkan berat badan ideal? Siapa sih, yang mau memiliki badan kegemukan? Meskipun mengarah ke fisik, padahal obesitas bukan semata tentang penampilan, lho. Obesitas juga berpengaruh pada kondisi kesehatan kita. Obesitas atau egemukan, biasanya dialami oleh seseorang yang berat badannya melebihi berat badan seharusnya. Kalian pasti sudah tahu kan cara menghitung berat badan yang ideal gimana?
Bagi yang belum tahu, cukup kurangi tinggi badanmu dengan berat badanmu (Tb-Bb = Jumlah berat badan ideal)
Nah, meskipun sekarang memiliki tubuh yang lumayan mendekati ideal (masih terlalu kurus, menurut orang-orang) saya juga pernah 'hampir' mendekati obesitas.

Wah, masa iya?

Iya, benar. Saya pernah.
Berat badan saya waktu itu paling berat mengarah ke 50 kg. Wah, jangan kaget dulu. Angka itu sudah menjadi masalah kecil bagi saya. Kenapa gitu? Karena saya terlihat tembam banget!
Iya, benar sekali lagi. Wajah saya yang dihiasi mata kecil, hidung agak lebar, dan bibir sedang terlihat seperti moon face. Waktu itu, saya sedang masa praktik kerja industri di salah satu perusahaan minuman. Selama masa praktik tersebut, saya tidak dapat mengontrol makanan apa saja yang saya konsumsi. Makanan yang disediakan kantin perusahaan tersebut termasuk 4 sehat 5 sempurna, namun untuk beberapa menu masakan, makanan yang diolah tidak layak. Seperti telur mata sapi, minyak yang dipakai menggoreng sudah berkali-kali di gunakan. Saat ditiriskan pun, tidak seluruhnya ditiriskan. Minyaknya masih terlihat dan masih bisa diperas oleh saya menggunakan sendok. WOW.

Terlebih, ruangan saya lumayan dekat dengan koperasi. Dan pekerjaan saya pun lumayan banyak membuang energi, berjalan dari departemen satu ke departemen lainnya. Alhasil, saya yang memang dasarnya lapar mata, nggak puas kalau nggak jajan, suka pergi ke koperasi untuk membeli cemilan cokelat atau permen cokelat yang bisa dimakan selama melakukan pekerjaan. 

Saat masuk sekolah, saya baru menyadari berat badan saya bertambah ketika menemani ibu saya ke bidan. Di sana, saya menimbang tubuh saya. Dan......angkanya.......lima puluh kilogram....

Saat selfie-selfie disekolah pun, saya jadi terlihat berbeda sekali! Mata semakin kecil karena balapan dengan pipi. Duh, khilaf.... Jadi malu.

Makanya, sejak hari itu saya mengontrol kembali makanan dan minuman yang saya konsumsi. seperti :

Minum air putih.



Saya terbilang orang yang jarang minum air putih, lebih suka minum teh manis dingin yang nggak terlalu manis. Tapi meskipun demikian, tetap minuman yang saya minum cuma air putih dan teh. Karena kebiasaan lama susah hilang, saya mengganti teh biasa dengan teh hijau celup. Rasanya? Pahit. Memang beauty is pain, sehat itu mahal.
Air putih juga dapat mengontrol nafsu makan kita lho! Menurut seluruh artikel yang saya baca, dua gelas ar putih sebelum makan dapat membantu kita menurunkan massa tubuh. Selama proses penurunan berat badan, sebisa mungkin saya menghindari minuman manis dan perbanyak minum air putih. Hasilnya, saya lebih segar dan tidak mudah lapar. Yey!



Makan serat.

Untuk yang ini, serat yang saya penuhi adalah melalui agar-agar dan buah semangka. Oh iya, saya juga suka minum jus tomat, apel, dan stroberi. Selain menyegarkan, ketiga buah tersebut juga bagus untuk kesehatan kulit saya.



Hindari Camilan
Berhubung sudah nggak PKL lagi, saya juga berhenti makan camilan. Benar-benar saya hindari camilan apapun, sebagai gantinya saya mengganti camilan dengan makan buah atau minum air putih saja



Keep Moving.

Kalau yang ini, memang dulu di sekolah tidak ada lift atau eskalator, jadi mau tidak mau saya harus menggunakan kaki untuk kemana-mana. Lokasi parkir yang jauh dari sekolah juga lumayan membantu saya. Sampai sekarang, saya masih berusaha untuk menggunakan tangga daripada lift atau eskalator di kampus. Selain lebih cepat, hal tersebut juga menjadi olahraga ringan yang bisa saya lakukan setiap hari



Diet.
Tahap yang ini, sampai sekarang masih saya lakukan. Diet yang saya lakukan bukanlah diet ketat yang gak boleh makan ini itu. Saya cukup sarapan seperlunya, makan berat saat jam makan siang, dan makan malam sebelum jam enam sore. Memang terkadang saya lupa, apalagi kalau aktivitas sedang banyak-banyaknya. Biasanya, saya membatasi porsi nasi putih jika ingin makan banyak. Karbohidrat dalam nasi bisa membuat gemuk, makanya saya kurangi porsi nasi putih disetiap menu makanan saya. Saya juga orangnya gampang kenyang, jadi cukup minum air putih di sela-sela konsumsi makanan untuk mengontrol makanan yang masuk ke lambung.
Paling ekstrim sih, saya selalu minum air perasan jeruk lemon tanpa tambahan apapun setiap pagi sebelum sarapan. Terkadang juga saya campurkan potongan lemon ke sebotol air putih untuk dijadikan infused water. Sebelum minum dan sesudah minum infused water terasa banget lho bedanya! 
Oh iya, saya juga paling suka olahraga lari. Kalau ada waktu luang, dan kalau lagi rajin hehehehe saya suka jogging pagi atau sore. Terasa banget manfaatnya, kulit saya jadi kencang dan badan jadi lebihi bugar.

Tips yang saya lakukan di atas bisa banget kamu lakuin untuk mencegah obesitas ataupun menurunkan berat badan! Yuk kita sama-sama cegah obesitas dengan menerapkan pola hidup sehat ^^

Monday, January 4, 2016

Sayonara, Sabina nee-san!

Setiap orang pasti memiliki tingkat kejenuhan masing-masing. Biasanya, jika kejenuhan itu sudah menumpuk, seseorang tersebut mencari celah dan suasana baru. Sama seperti kak Sabina. Dia adalah salah satu senior saya sewaktu magang pada musim liburan semester lalu. Statusnya saat itu menjabat sebagai Social Media Specialist di divisi Social Media. Seperti apa jobdesk social media specialist tersebut, akan saya bahas lain kali yaaa hehehe
Alhamdulillah, saya tidak pernah menyesal saat memutuskan untuk menerima tawaran interview di agency/manajemen konsultan tersebut. Awalnya, niat saya mencari magang hanya untuk mengisi waktu senggang liburan semester selama tiga bulan lebih. Memang benar ya, kalau niat kita baik, pasti dimudahkan jalannya. Siapa sangka, saya di terima di agency/manajemen konsultan tersebut untuk mengisi posisi anak magang yang lebih dulu keluar sebelum waktu magangnya selesai. Hari pertama magang itulah saya bertemu kak Sabina. Kak Sabina ini juga temannya kak Nabel, senior saya sebelum ia keluar dari agency itu. Sewaktu kak Nabel keluar, kak Sabina lah yang menggantikannya. Dibawahnya, ada beberapa anak magang yang membantunya 'mengendalikan' media sosial brand-brand besar, termasuk saya.
Menjadi seorang Social Media Specialist tidaklah mudah, saya tidak mengada-ada atau asal bicara, karena saya benar-benar merasakan menjadi Social Media Specialist 'beneran'. Didepan klien, identitas saya sebagai anak magang disembunyikan oleh senior-senior saya yang sudah lebih dulu mengenal klien. Mengapa demikian? Karena meskipun sebagai anak magang, jobdesk saya hampir sama dengan karyawan di agency itu. Jadi, saya juga berhadapan langsung dengan klien. Bahkan, saya juga bertemu dengan pemilik atau penerus dari salah satu perusahaan kosmetik terbesar di Indonesia yang menjadi klien kami.
Dengan demikian, saya harus menyeimbangkan diri dan harus bisa memposisikan diri saya sendiri. Walaupun di kantor saya sering diolok-olok atau 'diledekin' karena usia saya yang bisa dibilang termuda di agency tersebut, tapi saya tidak pernah memikirkannya. Malah bagus toh, jadi yang termuda mendapatkan ilmu?
Untunglah ada kak Sabina ini. Kak Sabina sangat berbeda dengan kak Nabel. Yah, jujur saja saya merasa segan dengan kak Nabel, entah karena dia yang tegas dan strict, serta tidak bisa ditindas siapapun, membuatnya terkesan 'galak dan jutek'. Kata kak Iko (orangnya ada di foto di bawah ini kok) kak Nabel nggak terlalu welcome sama dia, tapi kak Nabel baik sama saya. Ya bagus atuh, kerjaan saya jadi lancar bukan?
Enaknya sama kak Nabel itu, apa-apa cepet. Ada kesalahan atau revisi langsung dikerjain. Klien yang salah tapi kita yang disalahin, dia bisa berargumen. Nggak mau gitu aja disalahkan seenaknya gitu. Sifatnya yang seperti itulah yang membuatnya ditempatkan di Social Media Analyst.
Balik lagi ke kak Sabina. Kalo kak Sabina ini, memang dari awal sudah welcome banget sama saya. Hari pertama magang, saya yang paling pertama tiba di kantor. Disusul mas Boy (orangnya nggak ada di foto ini). Lalu kak Sabina datang, duduk di sebelah saya. Lama-kelamaan, kami pun akrab. Hingga sekarang.
Enak nggak kenal sama kak Sabina? Wah, enak banget! Hampir setiap hari di kantor membuat aku jadi merasa punya kakak sendiri. Kalau ada kerjaan ngeliput acara saat weekend kita pun hampir selalu bareng. Nah, karena sering bareng inilah membuat saya merasa sepiiiiiii banget sewaktu dia harus bekerja di luar kantor selama 10 hari. Satu hari aja dia datang ke kantor selama 10 hari tersebut, rasanya beda banget! Langsung kayak kantor yang biasanya. Di minggu-minggu terakhir saya magang, kita bukannya ngerjain konten, tapi malah asik Youtube-an :D
Selera humor kita hampir sama, ya lebih cetek saya sih (apalagi sejak ada kak First, btw dia nggak ada di foto-foto di bawah ini) jadi kalo nggak ada pak CEO di kantor, dan kita lagi nggak sibuk, ya buka-buka artikel ketawa-tawa deh!
Dia juga asik banget kalo diajak ngegosip, saya nggak pernah nanyain ada hal apa saja yang tak kasat mata yang ternyata terjadi di kantor. Tapi tiba-tiba dia dateng dan menceritakan semua yang dia tahu tentang gosip hari itu dan masalah yang sedang ada di sekitar kami. Agak tersanjung juga, ya lumayan tersanjung deh, saking percayanya sama saya dia sampai nyeritain semuanya. Saya juga dikasih tahu gimana rasanya skripsi, gimana ngadepin dosen, dan hal-hal yang dia alami sewaktu kuliah dia ceritakan semua ke saya. Beruntung banget yaa, saya jadi satu langkah lebih maju! 
Di tempat magang itu juga karyawan serta anak-anak magangnya juga up to date, berita baru atau gosip baru langsung terdengar oleh mereka. Berasa punya news anchor dan jurnalis portable jadinya.
Sekarang, kak Sabina sudah diterima di salah satu maskapai penerbangan sebagai Social Media Specialist jugaaa! Ya mudah-mudahan dia selalu betah di tempat kerjanya sekarang yaa, kita cepet-cepet ketemu lagi main bareng lagi! Sayonara Sabina nee-san!



Bawah: saya
Kiri : Kak Sabina, Kak Nafira
Tengah : Kak Iko
Kanan : Kak Aya, Kak Fanni (hijab)

Yha kalo nge-photo bomb orang memang ena'

Blossom's Review : Sushi Groove Kota Kasablanka

  
    

Sewaktu farewell kak Sabina, saya dan anak-anak kantor tempat saya magang ketemuan di kantor untuk hang out. Pengambilan hari yang kurang tepat dan terletak di tengah minggu, otomatis hang out di lakukan di malam hari. Kami memutuskan untuk makan malam di salah satu restoran Jepang di Kota Kasablanka, yaitu Sushi Groove.
Pati di antara kalian sudah ada yang pernah makan di sini, ya? Bagaimana menurut kalian? Kalau menurutku, untuk desain interiornya yaa lumayan bagus, rapi, unik, dan luas. Sementara untuk makanannya, ummm..... saya lebih suka yang salmon sashimi dibanding sushi yang matang. Mengapa? Karena kecap asin yang disediakan Sushi Groove ternyata terasa lebih asin di lidah saya, jadi nggak merasa cocok aja gitu kalau disandingkan dengan sushi matang yang rata-rata sudah diberi garam atau bumbu lainnya. Sumpah, kalau sudah makan sashiminya dicocol wasabi dan kecap asinnya, itu enak banget! Salmon sashiminya juga tidak terlalu terasa, first impression pokoknya.
Sementara untuk foto yang tengah, dari segi harga itu yang termurah. Kalau tidak salah, fillingnya adalah ayam. Adapula yang tuna. Waktu itu saya dan kak Sabina memesan ayam, karena porsinya yang banyak serta harganya yang paling murah, sekitar Rp. 32.000. Ternyata, pesanan yang datang duluan adalah pesanan kak Aya dan kak Nafira, dengan filling tuna. Karena rasa lapar dan ketidak tahuan kami, sewaktu waiter menjelaskan pesanan kami masing-masing, itu sushi sudah lumat di lambung._.v
Ternyata yang ada seladanya itu adalah filling ayam, dan yang non-selada isinya tuna. Udah salah makan, sempat-sempatnya pula saya protes kenapa sushi yang saya salah makan tidak ada seladanya...
Sementara untuk yang tengah, itu namanya Tamago-apa gitu. Harganya sekitar 60-ribuan. Yang paling mahal yang salmon di foto sebelah kiri, Rp.79.000 per porsi berisi 12 pcs sushi. Yang tamago-tamago itu menurut saya rasanya aneh, apalagi telurnya. Tamago dalam bahasa Jepang artinya telur. Makanya di atas sushinya itu ada omelet telur yang dijadikan toping.
Untuk minumannya.... termurah Hot Ocha. Sedikit mahal diatasnya, ya Iced Ocha. Bagi pecinta ocha (teh hijau Jepang), tidak usah khawatir! Ocha dan beberapa minuman lainnya masuk dalam kategori refill beverages. Iya, bisa nambah kalau haus :D

Kesimpulannya.... nilai untuk makanan di Sushi Groove ini dari saya 7/10. Masih enak I**iban Sushi, baik dari segi harga, kecap asin, maupun rasa makanannya. In my opinion, Sushi Groove itu setara dengan Zenbu dan Sushi Tei. Harga sama, tapi kualitas rasa memiliki ciri khas dan kekurangan masing-masing tentunya. Da saya mah apa atuh, kalau mau makan liatnya harganya dulu, bukan rasanya....

Nah ini penampakan sushi yang isinya tuna... yang asal makan tapi ternyata punya orang 





Sunday, January 3, 2016

Lost in Wonderland

  


Rabu, 30 Desember 2015 saya dan teman saya, Eltia, berkunjung ke Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta. Kunjungan ini adalah kunjungan saya yang kesekian kalinya, karena lokasinya yang mudah dijangkau oleh saya otomatis tempat ini menjadi salah satu tempat wisata favorit.
Saya juga nggak tahu sih, sejak kapan bisa menyukai tempat ini. Bisa dibilang, kunjungan perdana saya adalah ketika saya masih balita. Orangtua saya yang suka mengajak saya ke tempat-tempat wisata, apalagi dulu adik-adik saya belum lahir ke dunia hehehe
Seingat saya, kereta gantung atau gondola disetiap tempat sudah pernah saya rasakan dan saya naiki. Tidak terkecuali gondola di TMII tersebut. Tapi, lagi-lagi saya kurang ingat kapan tepatnya saya menaiki gondola tersebut. Daaan, di tahun 2016 ini saya memiliki resolusi kecil: naik gondola dan memotret dari ketinggian!
Ya. memang simpel, tapi susah dijalankan. Kesibukan saya yang menjadi penghalang. Waktu yang saya miliki juga tidak banyak. Teman yang menemani pun tidak ada....
Mungkin, berada di umur yang (ehem) hampir melewati masa remaja (menyedihkan!), yang menjadikan pandangan saya terhadap tempat wisata ini berbeda. Saya yang mulai keranjingan memotret disamping dipotret, sangat menyukai obyek-obyek wisata dan wahana yang terdapat di TMII ini. Salah satunya, Istana Anak.

Meskipun lumayan sering ke TMII, tapi saya sama sekali belum pernah masuk ke dalam Istana Anaknya. Ke pelatarannya saja pun tidak pernah. Hanya melewatinya karena memang selalu terlewati dan kelewatan saat hendak berpindah ke anjungan atau lokasi lain. Lagipula, untuk masuk ke lokasi ini pengunjung perlu membayar tiket masuk Rp.10.000 . Tujuan saya ke TMII lagi memang mengkhususkan diri untuk mengunjungi Istana Anak. Sewaktu kelas saya mendapatkan tugas meliput tempat wisata atau museum, salah satu kelompok di kelas saya mengambil lokasi di TMII dan tentunya mereka berfoto di Istana Anak. Mungkin bagi sebagian besar orang TMII tidak menarik, entah apa yang tidak menarik bagi mereka. Bagi saya, TMII selalu menarik. Hampir semua museum dan anjungan di tempat wisata tersebut sangat eye catching dan sangat bagus untuk dijadikan background foto.



Setelah membayar tiket masuk, saya dan Eltia merapikan penampilan sejenak. Tidak lama kemudian, kami pun memasuki area Istana Anak. Sesuai namanya, dalam area tersebut memang benar-benar dikhususkan untuk anak-anak! Dihalamannya terdapat permainan taman, ada jungkat-jungkit, ayunan, arena gokart, dan bahkan gazebo serta bangku-bangku taman. Cuaca yang panas membuat kami tidak bertahan lama di luar ruang, dan rasa ingin tahu yang tinggi kami mencoba masuk ke dalam kastil. Penasaran, ada apa sih di dalam Istana Anak ini?

WAW! Entah saya yang norak atau memang telat banget mengunjungi Istana Anak, saya baru tahu kalau bagian bawah atau lantai dasar dari Istana Anak ini adalah sebuah museum dan galeri pameran. Didalamnya, terdapat display puluhan mainan tradisional anak-anak dari seluruh Indonesia. Ya...pokoknya hal-hal dasar yang menarik minat anak, seperti rumah-rumah ibadah, baju adat, permainan tradisional, dan lain sebagainya. Lukisan-lukisan juga memenuhi dinding ruangan tersebut. Sayangnya, niat saya dan Eltia memang untuk foto-foto, alhasil kami hanya sibuk mencari background foto yang bagus dan tidak memedulikan informasi dari pajangan dinding atau lukisan-lukisan tersebut.



Cukup lama kami berada di dalam museum (karena suasana yang adem, tentunya). Kami menghabiskan waktu di salah satu sudut galeri dan museum yang kebetulan sepi (awalnya tidak sepi, ada sekelompok anak-anak atau keluarga sedang berfoto, dan langsung pergi saat melihat kami berniat mengambil foto di sudut itu). 


 


Bagus, ya? Pertama kali lihat, sudah berpikir "wah bagus banget nih foto di sini". Eh, ternyata benar. Cahayanya cukup terang, dan outfit yang kami kenakan pun mendukung. hehehehehe.

Setelah berpuas diri saling bergantian memotret, kami pun berkeliling lagi. Saat itu, suasana lumayan ramai karena masih musim liburan dan sudah masuk liburan akhir tahun.


 

Saya pikir, TMII dan terutama Istana Anak masih lengang sehingga saya bisa berfoto di dinding luar kastil Ternyata, pintu-pintu dan dinding luar kastil sudah dipenuhi stand-stand merchandise dan makanan yang tendanya menempel pada tembok. Alhasil, keinginan saya pun gagal terealisasi :(
Sebentar! Nggak semua tembok kastil dipakai, kok! Masih ada spot kosong di bagian samping kastil, yang terlindung pagar tembok setinggi pinggang. Yeaaaaay, langsung aja saya menyuruh Eltia untuk test shoot, barulah saya. Butuh 'sedikit' perjuangan untuk berfoto ditempat itu, apalagi kalau bukan berusaha melompati pagar tembok yang mengelilinginya sambil menjaga rok saya agar tidak tersingkap huft

Ketika baju semakin basah oleh peluh, bedak sudah tergantikan oleh cahaya sinar matahari, dan mood sudah menguap entah kemana... kami memutuskan pulang. Yaa siapa juga yang mau melanjutkan perjalanan, kalau ramainya kayak pusat perbelanjaan tiga hari sebelum Lebaran.

Oh ya, bagi kalian yang curious dimana saya mendapatkan rok yang saya pakai, itu handmade lho! Saya meminta salah seorang teman SMK saya, Irene, yang kebetulan lulusan jurusan Busana Butik di sekolah kami dulu. Sebelum dibuatkan olehnya, saya memintanya untuk bertanya pada penjahit langganannya. Tapi sayang, si ibu tidak bisa membuatkannya karena banyak orderan. Eh, siapa sangka ternyata Irene bisa membuatkan! Yey! 
Packagingnya lucu abis, saya tidak menyangka kalau dia sedemikian rapi dan niatnya sampai-sampai membuatkan packaging sebegini lucunya :


Harga dan kualitas berbanding lurus, kok! Selain warna mint/tosca, saya juga memesan rok berwarna hitam dan broken white/putih gading. Jika kalian berminat, silakan kepoin Instagramnya di @irenekhrl yaa! :)